Industri pengolahan tepung glukomanan menghasilkan sisa hasil sampingan berupa tumpukan limbah kulit umbi dalam jumlah yang cukup banyak di pabrik. Jika sisa kulit umbi tidak dikelola dengan benar, tumpukan bahan organik tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan serta aroma tidak sedap. Padahal, limbah organik tersebut mengandung unsur hara makro dan mikro yang sangat kaya serta berpotensi besar dimanfaatkan kembali. Pengolahan sisa olahan umbi porang menjadi pupuk kompos berkualitas merupakan terobosan ramah lingkungan untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian yang terdegradasi.
Proses pembuatan kompos organik ini dilakukan dengan mencacah limbah kulit umbi hingga berukuran kecil guna mempercepat proses dekomposisi mikroba. Cacahan tersebut kemudian dicampur dengan kotoran ternak, sekam padi, dan aktivator pembusuk organik dalam wadah pengomposan yang teraerasi baik. Selama proses fermentasi, temperatur tumpukan akan meningkat untuk membunuh mikroorganisme patogen serta biji gulma liar yang merugikan. Dalam kurun waktu beberapa minggu, limbah kulit umbi akan berubah menjadi kompos matang berwarna hitam renyah dan beraroma tanah alami.
Kompos kaya bahan organik ini sangat efektif untuk memperbaiki struktur fisik tanah yang padat serta meningkatkan kapasitas penyerapan air di lahan tanam. Kandungan hara nitrogen, fosfor, dan kalium organik di dalamnya akan terurai secara perlahan dan siap diserap oleh perakaran tanaman. Penggunaan kompos ini secara rutin mampu mengembalikan populasi cacing tanah dan mikroba menguntungkan yang menjaga ekosistem perakaran tetap sehat. Hasilnya, tanaman tumbuh lebih subur, tahan serangan penyakit, dan memiliki sistem perakaran yang sangat kuat di dalam tanah.
Pengembalian nutrisi alami melalui pemupukan kompos ini sejalan dengan usaha menjaga kemurnian komoditas porang dari risiko kerusakan lahan akibat penggunaan zat kimia sintetik secara berlebihan. Tanah yang kaya akan humus organik akan menghasilkan umbi berkualitas premium dengan kadar glukomanan yang tinggi saat panen. Petani dapat memangkas pengeluaran untuk pembelian pupuk kimia buatan hingga persentase yang sangat menguntungkan bagi margin usaha tani. Ketersediaan pupuk kompos mandiri ini menjamin keberlanjutan produksi umbi porang berstandar ekspor di tingkat petani lokal.
Aplikasi pupuk hasil daur ulang limbah ini sangat cocok digunakan pada masa pengolahan tanah sebelum penanaman bibit atau katak porang baru. Tanah yang gembur dan kaya bahan organik memfasilitasi pembesaran umbi di dalam tanah secara maksimal tanpa hambatan struktur tanah yang keras. Selain itu, kelembaban tanah dapat dipertahankan lebih lama saat memasuki periode musim kemarau pendek di kawasan perkebunan. Keunggulan fisik dan biologis tanah ini secara langsung mendongkrak tonase hasil panen umbi porang per hektarnya.
Penerapan konsep daur ulang limbah industri menjadi pupuk organik ini membuktikan komitmen sektor pertanian terhadap prinsip pembangunan yang ramah lingkungan. Petani porang Indonesia dapat menjalankan sistem budidaya yang efisien, hemat biaya, dan mandiri pasokan nutrisi secara berkelanjutan dari waktu ke waktu. Dukungan pendampingan teknologi pembuatan kompos ini harus terus diperluas kepada seluruh kelompok tani porang di Indonesia. Lahan yang subur dan lestari akan menjadi warisan berharga bagi generasi petani masa depan yang sejahtera.
