Membangun Biodiversitas Tanah adalah fondasi pertanian yang tangguh dan berkelanjutan. Di era modern, petani semakin menyadari bahwa produktivitas lahan tidak hanya diukur dari hasil panen semata, tetapi juga dari kekayaan organisme hidup yang mendiaminya. Pelatihan pengelolaan organisme hidup menjadi krusial untuk mengembalikan dan mempertahankan ekosistem tanah yang seimbang.
Program pelatihan ini dirancang untuk membekali petani dengan pengetahuan dan praktik terbaik dalam mengelola kehidupan di bawah tanah. Sebagai contoh, pada hari Jumat, 26 September 2025, pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, di Pusat Pelatihan Pertanian Mandiri (P3M) “Agri Lestari” yang berlokasi di Desa Sukamaju, Kecamatan Tani Sejahtera, Kabupaten Bumi Subur, sebuah lokakarya telah sukses diselenggarakan. Acara ini dihadiri oleh 80 peserta yang terdiri dari perwakilan kelompok tani dari berbagai desa, pengurus koperasi pertanian, serta mahasiswa agrikultur yang tertarik pada inovasi pertanian.
Materi yang disampaikan dalam lokakarya ini dimulai dengan pengenalan mendalam tentang konsep biodiversitas tanah dan mengapa ia begitu penting. Peserta diajarkan untuk memahami berbagai jenis organisme yang mendiami lahan, mulai dari mikroorganisme seperti bakteri, fungi, protozoa, hingga makro-organisme seperti cacing tanah dan serangga tanah. Instruktur menjelaskan fungsi esensial masing-masing kelompok dalam siklus nutrisi, pembentukan struktur tanah, dan pengendalian hama alami. Pemahaman akan jaringan kehidupan yang kompleks ini adalah langkah awal dalam upaya Membangun Biodiversitas Tanah.
Selanjutnya, pelatihan berfokus pada praktik-praktik pertanian yang mendukung dan meningkatkan populasi organisme tanah yang bermanfaat. Peserta diedukasi tentang dampak negatif penggunaan pupuk kimia sintetis dan pestisida secara berlebihan yang dapat merusak keseimbangan ekosistem tanah. Sebagai gantinya, ditekankan pentingnya penggunaan bahan organik, seperti kompos berkualitas tinggi dan pupuk kandang yang telah terfermentasi, sebagai sumber nutrisi utama bagi tanaman sekaligus “makanan” bagi organisme tanah. Sesi ini juga meliputi teknik pembuatan kompos yang benar, cara aplikasi pupuk organik yang efektif, dan penggunaan pupuk hayati yang mengandung mikroba menguntungkan.
Aspek penting lainnya yang dibahas adalah pengelolaan lahan yang meminimalkan gangguan dan memaksimalkan tutupan tanah. Peserta belajar tentang teknik olah tanah minimal (minimum tillage) dan tanpa olah tanah (no-tillage), yang bertujuan mengurangi kerusakan struktur tanah dan melindungi habitat organisme. Ditekankan pula pentingnya menanam tanaman penutup tanah (cover crops) di antara musim tanam utama untuk melindungi tanah dari erosi, menambah bahan organik, dan menyediakan tempat tinggal bagi mikroba. Diskusi interaktif dengan narasumber, Bapak Dr. Ir. Wahyu Hidayat, M.Sc., seorang pakar konservasi tanah dari Universitas Gadjah Mada, yang telah meneliti selama lebih dari 20 tahun, semakin memperkaya pemahaman peserta.
Sesi praktik lapangan menjadi bagian krusial dari lokakarya ini. Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok untuk langsung mempraktikkan pengamatan organisme tanah menggunakan mikroskop sederhana, membuat green manure dari sisa tanaman, dan mengaplikasikan pupuk hayati di lahan demplot P3M “Agri Lestari.” Pendampingan dilakukan oleh Ibu Sri Rahayu, seorang penyuluh pertanian senior dari Dinas Pertanian Kabupaten Bumi Subur, yang telah berdedikasi selama lebih dari 15 tahun dalam membimbing petani. Diharapkan, dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, para petani akan mampu secara aktif Membangun Biodiversitas Tanah di lahan mereka, demi produktivitas pertanian yang lebih tinggi, lingkungan yang lebih sehat, dan masa depan yang berkelanjutan.
