Mengenal Kembali Akar: Urban Farming Mirip Pertanian Subsisten

Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, tren kembali ke alam kini semakin marak, salah satunya adalah urban farming. Praktik ini, yang melibatkan budidaya tanaman di area perkotaan, seringkali dilihat sebagai hobi modern. Namun, jika ditelaah lebih dalam, urban farming memiliki banyak kemiripan fundamental dengan pertanian subsisten—suatu sistem di mana petani menanam makanan terutama untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Kesamaan ini terletak pada tujuan utamanya: menghasilkan pangan secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada rantai pasok komersial, dan memastikan ketersediaan makanan yang segar serta sehat. Bagi banyak penduduk kota, urban farming bukan hanya sekadar kegiatan rekreasi, melainkan sebuah jalan untuk kembali terhubung dengan sumber makanan mereka.

Kemiripan pertama terletak pada skala dan intensitas. Sama seperti pertanian subsisten, urban farming biasanya dilakukan di lahan yang terbatas—bisa di halaman belakang, di balkon apartemen, atau bahkan di atap gedung. Luas lahan yang terbatas ini mendorong petani kota untuk menggunakan setiap jengkal ruang secara efisien. Mereka sering mengadopsi teknik seperti vertikultur, hidroponik, atau aquaponik untuk memaksimalkan hasil. Sebagai contoh, di sebuah komunitas di Jakarta Pusat, sekelompok warga yang dipimpin oleh Bapak Rizal, seorang pensiunan pegawai swasta, berhasil menanam berbagai sayuran seperti selada, bayam, dan kangkung di area atap gedung seluas 50 meter persegi. Menurut laporan dari ketua RT setempat pada tanggal 20 Mei 2024, hasil panen mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian dari 10 kepala keluarga di lingkungan tersebut. Ini mencerminkan esensi dari pertanian subsisten yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pribadi.

Kemiripan kedua adalah pada minimnya penggunaan input eksternal. Petani subsisten cenderung memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar mereka, seperti pupuk kandang atau kompos buatan sendiri, dan meminimalkan penggunaan pupuk kimia serta pestisida. Demikian pula, banyak praktisi urban farming yang sangat mengandalkan kompos dari limbah dapur, memanfaatkan air hujan, dan menggunakan pestisida nabati buatan sendiri. Sebuah kelompok ibu-ibu PKK di Surabaya, yang memulai proyek kebun vertikal pada tanggal 10 April 2024, membuat pupuk kompos dari sisa sayuran dan buah-buahan. Ibu Siti, salah satu anggota, mengatakan bahwa praktik ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga memastikan sayuran yang mereka konsumsi bebas dari bahan kimia berbahaya. Hal ini sangat mirip dengan semangat mandiri dan keberlanjutan yang menjadi ciri khas pertanian subsisten.

Selain itu, baik urban farming maupun pertanian subsisten menekankan pada variasi tanaman. Alih-alih menanam monokultur, mereka cenderung menanam berbagai jenis tanaman untuk diversifikasi pangan dan mengurangi risiko kegagalan panen total. Diversifikasi ini tidak hanya memastikan ketersediaan nutrisi yang beragam, tetapi juga menciptakan ekosistem mini yang lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Dengan semua kesamaan ini, terlihat jelas bahwa urban farming lebih dari sekadar tren; ini adalah sebuah cara untuk mengadopsi prinsip-prinsip kuno pertanian subsisten ke dalam konteks modern.