Hama tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman yang paling sulit dikendalikan karena tingkat kecerdasan dan kemampuan adaptasinya yang sangat tinggi. Tikus tidak hanya memakan bulir padi atau jagung, tetapi juga merusak batang tanaman hanya untuk mengasah gigi serinya yang terus tumbuh. Banyak petani merasa kewalahan karena umpan racun seringkali diabaikan oleh tikus yang sudah “pintar”. Oleh karena itu, kembali ke teknik pengendalian fisik yang intensif menjadi pilihan utama. Salah satu teknik yang terbukti paling efektif dalam menjangkau sarang terdalam adalah metode pengasapan atau fumigasi, sebuah cara yang kini kembali dipopulerkan oleh para komunitas tani sebagai solusi tuntas di lahan pertanian.
Prinsip kerja dari teknik ini adalah dengan memasukkan asap beracun atau asap pekat ke dalam lubang-lubang aktif yang menjadi sarang persembunyian tikus di pematang sawah atau tanggul irigasi. Tikus memiliki sistem pernapasan yang sangat sensitif; ketika asap masuk ke dalam lorong-lorong sempit sarang mereka, oksigen akan menipis dan digantikan oleh gas karbon monoksida atau sulfur yang mematikan. Penggunaan belerang yang dibakar menggunakan alat emposan adalah cara yang paling umum digunakan. Asap belerang tidak hanya membunuh tikus dewasa, tetapi juga anak-anak tikus yang masih berada di dalam liang, sehingga populasi dapat ditekan secara drastis dalam satu kali pengerjaan yang serempak.
Keberhasilan teknik ini sangat bergantung pada kekompakan antar petani yang sering disebut sebagai sahabat kebun. Pengasapan tidak akan efektif jika dilakukan secara individu di satu petak sawah saja, karena tikus akan dengan mudah melarikan diri ke lubang di petak tetangga yang tidak diasapi. Oleh karena itu, gerakan “gropyokan” atau pengasapan massal harus dilakukan secara terjadwal dan bersama-sama dalam satu hamparan luas. Dengan menutup semua lubang keluar yang terdeteksi dan hanya menyisakan satu lubang untuk memasukkan asap, tikus tidak akan memiliki celah untuk meloloskan diri. Kerjasama komunitas inilah yang menjadi kunci utama dalam lawan tikus secara permanen di tingkat desa maupun kecamatan.
Selain menggunakan belerang kimia, inovasi organik juga mulai merambah teknik pengasapan ini. Beberapa petani mulai memanfaatkan sabut kelapa yang dicampur dengan daun tanaman tertentu yang mengandung racun alami seperti gadung atau kecubung.
